Perkuat Hubungan Bilateral, Gubernur Jajaki Sejumlah Kerja Sama Strategis
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!NEWSITERMEDIA.COM ll DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan kehormatan Wakil Menteri (Wamen) Luar Negeri Jepang, Ms. Akiko Ikuina, beserta delegasi di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar, pada Rabu (23/7).
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia, khususnya dengan Provinsi Bali. Dalam sambutannya, Ms. Ikuina menyampaikan rasa bahagianya bisa bertemu langsung dengan Gubernur Koster. Ia menegaskan bahwa Jepang dan Indonesia adalah sahabat lama, dan pihaknya berkomitmen memperkokoh hubungan yang telah terjalin, termasuk dalam bidang pariwisata, budaya, lingkungan, ekonomi, dan pertukaran sumber daya manusia.
“Bali memiliki potensi luar biasa dalam pariwisata, budaya, dan lingkungan. Banyak warga Jepang yang berkunjung ke Bali setiap tahunnya, bahkan ada lebih dari 2.200 warga negara Jepang yang menetap di sini. Kami sangat menghargai dukungan dan perhatian Pemerintah Provinsi Bali terhadap kenyamanan dan keamanan warga serta wisatawan Jepang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama di bidang lingkungan hidup, termasuk proyek pelestarian pantai dan hutan bakau, yang selaras dengan kebijakan Pemerintah Jepang dan kebijakan hijau yang dijalankan oleh Gubernur Koster.
Lebih lanjut, Ms. Ikuina menyampaikan bahwa jumlah warga Indonesia yang tinggal di Jepang meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir, mencapai 200 ribu orang.
“Penting bagi kita untuk terus memperkuat pertukaran SDM muda antara kedua negara, termasuk melalui pendidikan dan pelatihan. Saat ini, terdapat 6.778 pelajar Indonesia di Jepang, jumlah tertinggi kesembilan di dunia,” tambahnya.
Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyambut baik kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang. Ia mengungkapkan bahwa hubungan Bali dengan Jepang telah berlangsung lama dan berjalan sangat baik.
“Kami sangat menghargai wisatawan Jepang yang menghormati budaya dan aturan lokal. Selain itu, banyak anak muda Bali yang menimba ilmu, bekerja, dan magang di Jepang. Kami melihat banyak kesamaan nilai budaya antara masyarakat Bali dan Jepang, yang menjadi fondasi kuat dalam kerja sama ini,” kata Koster.
Gubernur Koster juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terbuka terhadap kerja sama konkret di berbagai bidang seperti pariwisata, budaya, pendidikan, pertanian, energi terbarukan, pengelolaan sampah, hingga pembangunan infrastruktur.
“ Sebagian besar ahli pertanian dari bali merupakan lulusan jepang karena kami mengetahui bahwa Jepang sangat maju untuk bidang pertanian,” tukas Gubernur.
“Kami berharap Jepang dapat mendukung pembangunan infrastruktur di Bali. Kami siap menindaklanjuti berbagai peluang kerja sama secara konkret bersama Konsulat Jenderal Jepang di Bali,” tambahnya.
Menutup pertemuan tersebut, Gubernur Koster menyerahkan cinderamata berupa kain tenun endek khas Bali kepada Wakil Menteri Luar Negeri Jepang sebagai simbol persahabatan dan penghargaan budaya antara Bali dan Jepang.
“Saya juga berencana mengunjungi Jepang tahun depan untuk melanjutkan kerja sama dalam program UMKM yang mendapat respons sangat baik dari masyarakat Jepang,” pungkasnya.(Noer/Tra)
Fasyankes Harus Mulai Kelola Sampah Berbasis Sumber
NEWSITERMEDIA.COM ll DENPASAR – Ibu Putri Suastini Koster selaku Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Provinsi Bali, Palemahan Kedas (PADAS), kembali menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya, termasuk di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Hal ini disampaikannya dalam webinar bertajuk “Pengelolaan Sampah Domestik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan” yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (23/7), guna memperkuat komitmen Bali menuju pengelolaan sampah yang tuntas dan bertanggung jawab.
Dalam paparannya, Ibu Putri Koster mengangkat realitas menyedihkan TPA Suwung yang selama 41 tahun menjadi tempat pembuangan akhir berbagai jenis sampah. “Kini Bali memiliki gunung sampah,” ujarnya. Tumpukan sampah ini, menurut Ibu Putri, bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga mencemari udara, tanah, dan air, serta menjadi sumber bencana lingkungan yang serius.
“Menganggap sampah sebagai masalah yang bisa dipindahkan hanyalah penundaan bencana. Tetapi ketika kita mulai mengelola sampah dari sumbernya, maka akan menjadi berkah,” tegasnya.

Ibu Putri juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah domestik di rumah sakit, yang sering kali luput dari perhatian.
“Saya yakin limbah medis sudah dikelola sesuai prosedur. Tapi bagaimana dengan sampah domestik dari pasien, dari dapur rumah sakit? Apakah sudah dikelola dengan benar?” tanyanya secara kritis.
Sebagai solusi konkret, beliau mengajak semua elemen, termasuk fasyankes, untuk melakukan pengolahan sampah organik langsung di sumbernya. Ia mencontohkan beberapa metode yang dapat diterapkan di rumah maupun di rumah sakit:
– Sampah organik basah seperti sisa makanan dan buah-buahan dapat dikelola dengan komposter yang diisi mikroba cair atau eco enzyme.
– Hasil dari pengolahan sampah organik menggunakan eco enzyme ini harus diencerkan terlebih dahulu dengan air sebelum digunakan untuk menyiram halaman.
– Sampah organik kering atau sampah halaman dapat dikelola pada teba modern, yang nantinya dapat menghasilkan pupuk organik.“Sampah sekecil apapun wajib dituntaskan di tempat asalnya. Ini menjadi kewajiban semua warga Bali tanpa syarat dan tanpa alasan,” tegas beliau.

Lebih lanjut, Ibu Putri juga menyampaikan pentingnya peran desa dan komunitas adat, yang ditegaskan melalui berbagai regulasi daerah, di antaranya Pergub No. 47 Tahun 2019, Keputusan Gubernur No. 381 Tahun 2021, dan SE Gubernur Bali No. 9 Tahun 2025 tentang Bali Bersih Sampah. Regulasi tersebut menempatkan kepala desa, lurah, dan jro bendesa sebagai penanggung jawab pengelolaan sampah berbasis sumber.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa pengelolaan limbah di fasyankes telah diarahkan untuk mengutamakan prinsip pencegahan dan pengurangan sejak dari sumber. “Saat ini tren pengelolaan limbah adalah dengan meminimalkan timbulan limbah melalui prevention dan 3R (reduce, reuse, recycle),” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sampah domestik menyumbang sekitar 80% dari total limbah di fasyankes, dan perlu dipisahkan secara ketat dari limbah medis atau bahan berbahaya. “Fasyankes wajib memilah sampah sejak dari sumber, menyediakan wadah sesuai jenis limbah, serta melabelinya dengan simbol yang tepat,” jelasnya.
Data terkini menunjukkan bahwa dari 633 fasyankes di Bali, baru sekitar 16,6% yang telah mengelola sampah domestik secara optimal, termasuk dengan metode seperti komposting, eco enzyme, dan bank sampah. “Kami mendorong seluruh fasyankes untuk menerapkan sistem pemilahan dan pengolahan mandiri agar tidak membebani TPA,” tambahnya.
dr. Anom juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendukung kebijakan Pemprov Bali yang akan menutup seluruh TPA di Bali pada akhir 2025. “Dengan tidak adanya lagi TPA, maka satu-satunya jalan adalah mengelola sampah secara tuntas dari sumbernya,” tutupnya.(Kar/Tra).
Mitigasi Sistem Kelistrikan Bali, Gubernur Minta Sejalan dengan Bali Mandiri Energi
NEWSITERMEDIA.COM ll DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster bersama dengan jajaran PLN UIP JBTB melaksanakan rapat terkait pembangunan Sutet 500 kV Gilimanuk-Antosari di Kabupaten Jembrana dan Tabanan di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jaya Sabha Denpasar, Rabu (23/7).

“Pembangunan Sutet 500kV Gilimanuk-Antosari merupakan langkah PT. PLN dalam mengantisipasi pertumbuhan beban listrik untuk wilayah Bali,” jelas Executive Vice President Kontruksi Jawa, Madura, Bali, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PT PLN (Persero), Ratnasari Sjamsudin.
Ratnasari menyampaikan pembangunan SUTET 500kV Gilimanuk-Antosari merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai dengan RUPTL Tahun 2025-2034 yang bertujuan untuk menjaga keandalan dan perkuatan sistem kelistrikan di Provinsi Bali dalam mengantisipasi pertumbuhan kelistrikan yang cukup tinggi.
Diketahui konsumsi listrik di Bali terjadi di Februari 2025 dengan beban puncak mencapai 1189 MW sedangkan daya mampu pembangkit, Daya Mampu Netto (DMN) 1519 MW dan Daya Mampu Pembangkit (DMP) 1388 MW sehingga cadangan energi hanya sebesar 199 MW sementara estimasi pertumbuhan kelistrikan di Provinsi Bali mencapai 6% atau bertambah sekitar 60MW per tahun. Dengan pasokan bauran energi Bali terdiri dari batubara 38,8%, LNG 16,8%,MFO 2%, HSD 12,5% dan SKLT Jawa-Bali 29,9%.
Terkait keterbatasan cadangan energi di Provinsi Bali, PT. PLN (Persero) telah menetapkan langkah mitigasi antara lain untuk mitigasi jangka pendek dengan pengoperasian EBT PLTP Ijen (34 MW) dan dan penyelesaian pembangkit EBT/PLTS 50 MWp, PLTD 220 MW serta PLTGU 200 MW, Mitigasi jangka menengah dengan menyelesaikan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 450 MW dan mitigasi jangka Panjang dengan penyelesaian Jawa Bali 500 kV Project.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi rencana PT. PLN (Persero) dalam memperkuat sistem kelistrikan di Provinsi Bali tersebut. Ia menjelaskan sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia bahkan Dunia, Bali memerlukan kepastian ketersediaan energi khususnya listrik.
“Jadi kita butuh kepastian listrik secara berkelanjutan. Jangan sampai terjadi blackout seperti kemarin lagi,” ungkapnya.
Ia menginginkan upaya PLN untuk memperkuat sistem kelistrikan di Bali sejalan dengan program Bali Mandiri Energi yang ramah lingkungan. Dengan mengembangkan energi yang ramah lingkungan, menurutnya kepariwisataan Bali menjadi naik kelas.(KAR/TRA)










