Gubernur Koster Angkat Bicara, Soal Framing mantan KPU Bali yang Menyesatkan

Putu Artha Cari Sensasi dengan Kritikan Menyesatkan Masyarakat Bali

Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe!

NEWSITERMEDIA.COM ll DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster terus – menerus diserang di media sosial dan podcast untuk framing yang menyesatkan masyarakat, untuk itu masyarakat harus cerdas memilah informasi, karena tidak semua yang terdengar lantang itu benar. Wajar saja kalau Gubernur Koster akhirnya buka suara menanggapi serangan bertubi-tubi Putu Artha tersebut. Putu Artha yang mantan Ketua KPU Bali ini belakangan gencar mengkritik Koster, termasuk dalam program podcast Jeg Bali. Namun dengan nada tenang penuh arti Gubernur Koster mengingatkan bahwa dunia politik tidak semestinya diisi dengan sikap tidak tahu diri dan menuduh tanpa data.

“Saya jujur saja, dulu saya yang membantu dia habis-habisan sampai akhirnya terpilih jadi Komisioner KPU RI. Sekarang, setelah saya menjadi Gubernur, justru dia yang menyerang terus. Kalau mau jadi politisi, jangan begitu dong. Harus punya etika,” kata Koster saat menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela kegiatan di Denpasar, Senin (11/8) kemarin.

Koster juga menyentil rekam jejak Putu Artha yang pernah maju sebagai calon DPR-RI namun gagal terpilih di daerah pemilihan Sulawesi Tengah pada Pemilu  2019 dan tahun 2024. Tidak maju dari Provinsi Bali disebut-sebut lantaran tidak punya pendukung.

“Rekam jejaknya sudah jelas. Pernah nyaleg, tapi masyarakat tidak memilih. Mungkin itu yang membuatnya lebih banyak bersuara di media dan podcast, ketimbang menunjukkan karya nyata,” pungkasnya.

Tak hanya soal kritik politik, Koster menilai serangan pribadi yang dilancarkan Putu Artha sudah kelewatan, terutama ketika menyeret nama istrinya sebagai buzzer Koster. “Menyebut istri saya sebagai buzzer itu tindakan tidak etis. Wajar kalau istri saya membela saya ketika saya diserang bertubi-tubi. Itu manusiawi. Dia bukan buzzer, dia istri saya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Koster juga mengingatkan publik agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang sengaja dikemas untuk menggiring opini. “Sekarang banyak yang menggunakan media sosial dan podcast untuk framing yang menyesatkan. Masyarakat harus cerdas memilah informasi, karena tidak semua yang terdengar lantang itu benar,” tandasnya.

Dengan pernyataan ini, Koster tidak hanya mematahkan narasi Putu Artha, tetapi juga mengembalikan sorotan publik pada rekam jejak dan konsistensi seorang tokoh yang kerap berbicara keras, namun minim bukti kontribusi nyata.

“Kalo mau maju calon lagi Pemilu 2029, berbuatlah dengan simpatik, tunjukkan prestasi kepada masyarakat, maju dari Bali agar masyarakat memilih nanti. Saya pun mendoakan agar Putu Artha terpilih menjadi anggota DPR RI atau DPD RI mewakili masyarakat Bali,” tutup Koster. (Tim ppdi)