Beranda / Berita Terkini / Info Denpasar Terkait Pujawali, D’Youth Fest 5.0 dan Duta PKB

Info Denpasar Terkait Pujawali, D’Youth Fest 5.0 dan Duta PKB

Wali Kota Hadiri Penyineban Pujawali Pura Segara Rupek

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Penyineban Pujawali Pura Dangkahyangan Payogan Agung lan Pura Beji Segara Rupek. Dalam kesempatan yang sama Wali Kota Denpasar Jaya Negara juga ikut mengikuti prosesi “Penyucian lan Ngelinggihang Teteken Paican Ida Batara Lingsir Danghyang Siddhimantra” Pelinggihnya di Kawasan Taman Nasional Bali Barat, Buleleng, Sabtu, (28/6).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Ket Foto : Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Panyineban Pujawali Pura Dangkahyangan Payogan Agung lan Pura Beji Segara Rupek, pada Sabtu (28/6) pagi.

Wali Kota Jaya Negara hadir bersama Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara. Hadir pula mendampingi diantaranya Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Marhaendra Jaya, Kadis Damkar dan Penyelamatan, I Made Tirana, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara, Kabag Prokopim Setda Kota Denpasar, Cokorda Gede Partha Sudarsana, serta perwakilan OPD lain mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat.

Dalam rangkaian upacara juga dipentaskan Tari Baris Gede yang dibawakan oleh Bendesa Adat se-Kota Denpasar, Tari Topeng Sidakarya serta Tari Rejang Dewa. Rangkaian pujawali di akhiri dengan persembahyangan bersama yang Dipuput Ida Pedanda Istri Nabe Griya Manistutu Jembrana dan Ida Rsi Agung Bang Bodhi Satya Siddhi Natha Daksa, Griya Agung Pemuteran Nusa Ceningan, Nusa Penida, Klungkung.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara selaku Penglingsir Puri Penatih dan Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih mengatakan seluruh rangkaian Pujawali di Pura Dangkahyangan Payogan Agung lan Pura Beji Segara Rupek yang telah dilaksanakan ini semoga dapat memberikan vibrasi kebaikan bagi umat. “Sekaligus sebagai landasan bagi umat dalam menjaga harmonisasi antara unsur Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan yang terbalut dalam filosofi luhur Tri Hita Karana, ” ujar Jaya Negara.

Sementara Jero Bendesa Desa Adat Sumberklampok, I Putu Artana selaku Kelihan Pengempon Pura menjelaskan Pujawali di Pura Dangkahyangan Payogan Agung lan Pura Beji Segara Rupek dilaksanakan rutin setiap tahunnya bertepatan pada Rahina Tilem Sadha.

“Puncak Karya Pujawali di Pura ini bertepatan dengan Rahina Tilem Sadha, Kamis, 25 Juni 2025 lalu. Sedangkan Penyineban dilaksanakan pada Saniscara Umanis Medangkungan, 28 Juni 2025. Semoga melalui seluruh pelaksanaan Pujawali ini dapat memberikan energi kebaikan bagi seluruh umat manusia serta semua umat dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa,” ujarnya.(esa-wah/tra)

Wawali Buka D’Youth Fest 5.0 Momentum Unjuk Kreasi dan Aksi

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar kembali menggelar Denpasar Youth Festival (D’Youth Fest 5.0) yang tahun ini memasuki edisi ke-5. Ajang tahunan yang menjadi wadah ekspresi dan kreativitas pemuda Denpasar tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Walikota, I Kadek Agus Arya Wibawa, di Main Stage Lapangan Lumintang, Sabtu (28/6).

Ket. Foto : Wakil Walikota Arya Wibawa bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Denpasar Anak Agung Putu Gde Wibawa, Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana serta undangan lainnya turut melempar bola sebagai tanda pembukaan D’Youth Fest 5.0, Sabtu (28/6)di Main Stage Lapangan Lumintang, Denpasar.

Rangkaian pembukaan berlangsung semarak dengan penampilan Baleganjur Perkusi dari ST. Yowana Dharma Satya Br. Ketapian Kelod, Desa Adat Sumerta, serta pertunjukan tari modern yang merepresentasikan semangat dan dinamika generasi muda.

Dalam momentum pembukaan tersebut, Wakil Walikota Arya Wibawa bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Denpasar Anak Agung Putu Gde Wibawa, Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana turut melempar bola menjadi simbol kolaborasi dinamis bersama Perseden Denpasar, mengawali semangat kreativitas dan sportivitas yang digaungkan dalam D’Youth Fest 5.0.

Sebelum seremoni pembukaan, para tamu undangan berkesempatan meninjau berbagai stand pameran kreatif dan UMKM yang memadati area festival. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Pimpinan OPD Pemkot Denpasar, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda.

Di sela-sela pembukaan D’Youth Fest 5.0, Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menekankan pentingnya festival ini sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda. Menurutnya, D’Youth Fest merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam menciptakan wadah yang mendorong ide-ide kreatif anak muda agar tersalurkan dan memberikan nilai tambah dalam membangun daya saing kota.

“D’Youth Fest memberikan ruang untuk menciptakan aksi, memberikan reaksi, dan menghasilkan kreasi. Ini sejalan dengan visi misi kami mewujudkan Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut, Arya Wibawa menyampaikan bahwa pelaksanaan D’Youth Fest juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas generasi muda, sekaligus bagian dari penguatan ekosistem kreatif yang telah dibangun melalui kehadiran Dharma Negara Alaya (DNA) dan Plaza Suci sebagai creative hub di Kota Denpasar.

“Kami berharap D’Youth Fest 5.0 diharapkan menjadi panggung bagi generasi muda Denpasar untuk bersinar di bidang apapun yang mereka tekuni, sekaligus berkontribusi dalam membangun Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya menuju Denpasar Maju,” tutup Arya Wibawa.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti, menegaskan bahwa pelaksanaan D’Youth Fest 5.0 merupakan wadah strategis bagi anak-anak muda Denpasar untuk mengekspresikan potensi diri mereka. Melalui aksi, reaksi, dan kreasi, festival ini menjadi selebrasi tahunan semangat, kreativitas, dan inovasi generasi muda Denpasar. “Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran, eksplorasi kreativitas, dan kolaborasi lintas komunitas anak muda,” ungkap Riyastiti.

D’Youth Fest 5.0 akan digelar selama dua minggu penuh, bertepatan dengan masa libur sekolah. Hal ini dirancang untuk menjadi alternatif kegiatan positif dan produktif, terutama bagi kalangan pelajar. Festival ini mewadahi berbagai komunitas kreatif dari beragam subsektor ekonomi kreatif seperti teater, seni tattoo, musik, cosplay, fashion, E-sports, tari tradisional dan modern, mural, MC kontes, barber, UMKM, serta beragam kompetisi komunitas lainnya.

Tidak hanya itu, D’Youth Fest 5.0 tahun ini juga menggandeng klub sepak bola kebanggaan Denpasar, Perseden, sebagai bentuk kolaborasi lintas bidang yang memperkuat identitas dan semangat kota. Festival akan digelar di tiga lokasi berbeda, masing-masing dengan karakter dan aktivitas yang khas. Meliputi, Dharma Negara Alaya (DNA) akan menjadi pusat kegiatan seni seperti Tattoo Contest, pertunjukan teater, dan pameran visual.

Graha Yowana Suci tetap menjadi rumah bagi berbagai aktivitas komunitas, tempat anak muda berkumpul, berbagi ide, dan berkolaborasi. Lapangan Lumintang akan menjadi lokasi Malam Puncak D’Youth Fest 5.0, menampilkan musisi favorit pemuda Denpasar dalam suasana pesta kreatif dan penuh semangat.

Di samping itu, kehadiran seniman legendaris Pekak Petruk yang akan tampil sebagai Master of Ceremony pada malam puncak. Sosoknya yang melegenda di dunia seni dan budaya Bali memberikan sentuhan istimewa yang menyatukan nilai-nilai tradisi dan kekinian dalam satu panggung ekspresi.

“D’Youth Fest adalah tempat di mana ide-ide segar dan bakat-bakat muda mendapatkan panggungnya. Ini adalah perayaan keberagaman, semangat kebersamaan, dan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh pemuda Kota Denpasar. Mari bergabung dan menjadi bagian dari perjalanan kreatif ini,” pungkas Riyastiti. (Pur/Tra)

Duta Kota Denpasar Sajikan Busana Adat Khas Daerah 

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Duta Kota Denpasar kembali memberikan sajian busana terbaiknya pada Parade (Utsawa) Busana Khas Daerah serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025. Duta Kota Denpasar tampilkan 6 busana dari busana upakara ngusabha Desa, hpakara Manusa Yadnya Hingga Prajuru Adat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Sabtu (28/6).

Dalam kesempatan tersebut, Duta Kota Denpasar menampilkan enam jenis busana adat. Yakni Busana Upakara Ngusabha Khas Denpasar, Busana Nirsista (Sederhana), Busana Payas Madya, Busana Payas Agung, Busana Payas Melelunakan dan Busana Prajuru Adat, tentunya sesuai dengan pakem tradisi Kota Denpasar. Tak hanya Duta Kota Denpasar, di panggung yang sama juga turut tampil perwakilan seluruh Duta Kabupaten se-Bali.

Ketua TP. PKK Kota Denpasar yang juga Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara yang didampingi Sekretaris I TP PKK Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa dan Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana, dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas penampilan maksimal Duta Kota Denpasar pada Parade (Utsawa) Busana Khas Daerah serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII. Seluruh busana adat yang ditampilkan, menurutnya telah menggambarkan ciri khas, pakem dan tradisi berbusana di Kota Denpasar.

Sagung Antari kemudian menambahkan, dirinya berharap kedepannya, pakem dan tradisi berbusana adat ini terus dilestarikan. Sehingga mampu menjadi contoh bagi masyarakat dalam berbusana sesuai dengan fungsinya. “Duta Kota Denpasar telah mempersembahkan penampilan apik, dengan desain busana adatnya yang sesuai dengan pakem tradisi dan ciri khas Kota Denpasar. Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi untuk tata busana adat di masyarakat,” ujar Sagung Antari.

Sementara itu, Perancang Busana Duta Kota Denpasar, Dr. Anak Agung Ngurah Anom Mayun atau kerap disapa Turah Mayun menjelaskan, pada pelaksanaan Utsawa (Parade) PKB XLVII ini, ditampilkan beberapa busana adat yang berbeda dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini, Busana Upakara Ngusabha Desa menjadi salah satu dari busana yang ditampilkan pada parade ini.

Busana Upakara ini, banyak menggunakan sentuhan warna putih dan kuning sebagai makna kesucian, kebersihan dan keharmonisan alam semesta. Pada busana wanita, digunakan tapih prada, wastra songket, sabuk songket motif patra balik dan selendang songket/cecawangan. Sedangkan pada laki-laki penggunaan Wasta Mekancut, saput songket, umpal, Baju, udeng songket, yang silengkapi dengan aksesoris seperti bunga pucuk emas pada udeng, serta bunga segar yang beraroma harum, menggunakan cincin/ali-ali pada jari tangan menjadi ciri khasnya.

Setelahnya, ditampilkan juga Busana Nirsista (sederhana) yang dipergunakan untuk upacara menik kelih (Ngeraja) dan upacara metatah/mesangih/mepandes dengan tingkatan upacara sederhana. Seperti yang diketahui, Upakara ngeraja adalah suatu peringatan beralihnya usia anak-anak menuju remaja yang ditandai dengan mengalami menstruasi pertama pada anak perempuan dan pada anak laki-laki terjadi perubahan warna suara yang mulai membesar, yang disebut dengan Ngraja Singa. Busana selanjutnya yang ditampilkan adalah Busana Payas Madya yang digunakan pada Upacara Manusia Yadnya yaitu Mesangih, Metatah/Mepandes dan Upacara Pernikahan dengan Tingkatan Upacara Madya/Menengah.

Pada payasan perempuan ciri khasnya menggunakan tata rias Sri Nata, Semi, dengan Pusungan Moding yang dirias dengan Bunga segar (Bunga Cempaka Putih, Kuning, Kenanga dan Mawar Kampung berwarna Merah). Payasan ini juga menggunakan Bunga Bancangan Emas, Bunga Sandat Emas Bunga Kap Emas, dan aksesoris penunjang lainnya.

Untuk payasan pada laki-laki, busana ini menggunakan Destar prada/songket, yang dilengkapi dengan aksesoris bunga Pucuk Emas pada destar, dan bunga segar, serta keris yang diselipkan pada punggung sebelah kanan menghadap ke belakang. Lebih lanjut, Turah Mayun juga memaparkan, ada juga Busana Payas Agung yang ditampilkan pada parade ini. Busana dan Tata Rias Payas Agung ini digunakan pada Upacara Mepandes dan Pernikahan dengan tingkatan Upacara Tingkat Utama.

Ciri khas yang digunakan pada riasan perempuan adalah pemakaian pusungan yang dinamakan gelung agung yang dihiasi dengan bunga segar seperti cempaka putih, cempaka kuning, kenanga dan mawar merah. Ada juga kelengkapan aksesoris seperti petitis dan tanjung emas khas Kota Denpasar, dan aksesoris pada tangan, lengan hingga pergelangan kaki.

Untuk riasan laki-laki aksesoris yang digunakan berupa hiasan kepala gelung garuda mungkur, sepasang rumbing menghiasi telinga, dan lainnya. Payasan ini juga menggunakan busana wastra prada malelancingan, dan menggunakan Keris Emas yang diselipkan di punggung. Turah Mayun kemudian menambahkan, Busana selanjutnya yang ditampilkan pada parade ini adalah Payas Melelunakan yang digunakan oleh para wanita pada upacara Pitra Yadnya yaitu Ngaben atau Pelebon di Kota Denpasar. Upacara Ngaben sendiri memiliki makna sebagai proses pelepasan Atma dari belenggu kehidupan duniawi sehingga mampu menyatu dengan Brahman.

Melelunakan adalah jalinan rambut dengan selendang dengan panjang 2,5 meter serta lebar 7-8 cm yang dililitkan di kepala dengan putaran 3 kali yang merupakan pakem Tri Kona yang berarti dinamika hidup. “Khusus untuk riasan lelunakan payasan yang digunakan adalah aksesoris berupa setangkai bunga puspa limbo emas, bunga sandat emas yang diselipkan pada bagian atas lelunakan. Penggunaan busana ini biasanya untuk upacara Pitra Yadnya/Ngaben diadakan dengan tingkat upacara utama,“ kata Turah Mayun

Busana terakhir yang ditampilkan, lanjut Turah Mayun adalah Busana Prajuru Adat yang digunakan oleh PrajuruAdat/Kelian Adat pada pelaksanaan upacara Rasa Rumaksa dalam Upakara Pawiwahan. Kelian Adat bertugas sebagai saksi dalam upakara pawiwahan, mengesahkan prosesi pernikahan dengan menyerahkan akta perkawinan kepada mempelai. Memiliki kewenangan dalam menentukan keputusan adat serta menjadi tokoh yang menjaga kelestarian tradisi ritual pernikahan di masyarakat.

“Busana ini berciri khas menggunakan warna Gelap seperti coklat, hijau gelap adalah warna yang kuat, melambangkan stabilitas dan keandalan, serta kesederhanaan. Sedangkan warna hijau melambangkan keharmonian, kemurahan hati, dan perlindungan,“ tutup Turah Mayun. (TRA).