Beranda / Berita Terkini / DENPASAR / Gubernur Koster Sambut  Baik Peluncuran Program Jaga Desa

Gubernur Koster Sambut  Baik Peluncuran Program Jaga Desa

Peluncuran Program Jaga Desa Kolaborasi Kemendes PDTT dan Kejagung RI

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster menyambut baik peluncuran Program Jaga Desa di Provinsi Bali, yang merupakan program kolaborasi Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, guna mendukung pembangunan Bali yang bersih, berkelanjutan dan memastikan Bali tetap ajeg penuh dengan kedamaian.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Program Jaga Desa ini secara resmi diluncurkan pada, Kamis (Wraspati, Umanis Sinta) 11 September 2025 di Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bali yang ditandai dengan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antar Bupati/Walikota se-Provinsi Bali dengan Kepala Kejaksaan Negeri se-Provinsi Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster yang hadir bersama Wakil Menteri Desa dan PDTT RI, Ahmad Riza Patria, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H.,L.L.,M., Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, La Ode Ahmad P. Bolombo, Kepala Kajati Bali, Ketut Sumedana, Pangdam IX Udayana, Wakapolda Bali, dan Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar menyaksikan secara langsung Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Program Jaga Desa tersebut yang disambut apresiasi oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Bendesa Adat beserta Perbekel se-Bali.

Mengawali acara peluncuran tersebut, Kejati Bali, Ketut Sumedana mengatakan, peluncuran program Jaga Desa sangat penting dan strategis, dimana program ini diselenggarakan dengan kolaborasi antara Kejaksaan RI, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Desa dan PDTT.

Dalam implementasinya, program Jaga Desa disebutnya memiliki aplikasi untuk mengawasi dana desa, jadi jangan macam – macam menggunakan dana Desa. Untuk itu diharapkan pembangunan di Desa dapat berjalan dengan baik, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kejati Bali juga melaporkan bahwa ia menyadari di Bali masih ada banyak konflik adat yang tidak terselesaikan, sehingga ia memastikan harus ada tempat atau pola penyelesaian perkara adat di Desa.

Tempat dan pola itu, ia hadirkan dengan program Bale Kertha Adhyaksa, harapannya supaya setiap masalah yang ada dapat diselesaikan secara efektif, cepat dan tidak dipungut biaya. Bale Kertha Adhyaksa juga akan dipayungi oleh Peraturan Daerah, tujuannya untuk meminimalisir perkara – perkara perdata yang sederhana, agar tidak masuk ke Pengadilan.

Kita berharap, biaya – biaya yang dikeluarkan dalam perkara itu tidak ada biaya, baik biaya dari masyarakat maupun biaya dari negara harus kita meminimalisir. “Sehingga kehadiran Bale Kertha Adhyaksa akan menciptakan keadilan secara hakiki, karena setiap masalah yang muncul diselesaikan secara musyawarah mufakat,” tegasnya.

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan kami di Provinsi Bali mendapat program yang sangat bagus dari Kejati Bali, yaitu pertama Bale Kertha Adhyaksa, sebagai program yang progresif dan inovatif dalam memecahkan masalah – masalah kehidupan masyarakat yang bersakala Desa/Kelurahan, serta Desa Adat dengan melaksanakan proses hukum ditingkat Desa menggunakan kearifan lokal.

Dampaknya akan membuat Desa semakin harmoni, secara psikologis tidak ada dendam satu sama yang lain, karena setiap masalah diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat dan beban negara dalam pembiayaan penanganan perkara akan berkurang.

Kedua, untuk program Jaga Desa, bahwa kami di Bali memiliki 636 Desa, 80 Kelurahan, dan 1.500 Desa Adat. Kata Gubernur Koster, di Bali sangat membutuhkan program ini, agar kekuatan unteng alam, manusia, dan kebudayaan di Bali dapat dibangun dengan penuh harmoni, serta membangun tata titi kehidupan masyarakat Bali yang semakin baik, guna mewujudkan Bali semakin kondusif, menginggat Bali sebagai daerah pariwisata dunia yang sangat ditentukkan oleh faktor kenyaman, keamanan, dan kondusifitas masyarakat di Bali.

Guna mendukung program Jaga Desa, khususnya di Desa Adat, kami di Bali sudah ada Pecalang yang mendukungnya, karena secara sosiologis, historis, dan cultural Pecalang sudah tumbuh sejak berabad-abad, serta berperan secara kolektif menjaga wilayah Bali. Sehingga dengan adanya Jaga Desa, tatanan di Bali sudah sangat lengkap, baik di Desa Dinas atau di Desa Adat untuk menjaga wilayahnya.

Kami penuh komitmen akan menjalankan Jaga Desa dengan sebaik – baiknya bersama Bupati/Walikota, Perbekel, dan Bendesa Adat se-Bali, tutup Murdaning Jagat Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

PROGRAM JAGA DESA SEBUAH TEROBOSAN PERKUAT TRANSPARANSI PENGELOLAAN DANA DESA SECARA KOLABORASI

Wamendesa RI, Ahmad Riza Patria yang hadir pada acara Peluncuran Program Jaga Desa menjelaskan program Jaga Desa adalah sebuah terobosan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana Desa. Dana Desa telah menjadi tulang pungung pembangunan lebih dari 75 ribu Desa, dengan total alokasi sudah mencapai Rp 681 triliun, dana Desa telah membangun jalan, jembatan, irigasi, air bersih, MCK, Posyandu, Poliklinik, prasarana olahraga, sampai membantu mengurangi kemiskinan dan stunting. Semakin besar dana yang dikelola, semakin besar pula tanggungjawabnya, korupsi sekecil apapun akan menciderai amanah rakyat.

Karena itu, kehadiran program Jaga Desa hari ini adalah wujud nyata yang sangat penting, kita ketahui bersama Bapak Presiden RI sangat gencar sekali agar pembangunan di Indonesia segera terwujud, bisa menjadi negara maju, adil dan makmur, serta sejahtera. Tunjukkan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, aparat penegak hukum dan Pemerintah Desa dalam membangun Desa. Wujudkan pemerintahan yang bersih, kedepan kami harapkan tidak ada satupun perangkat Desa yang menyalahgunakan dana Desa, tegasnya.

Disisi lain, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, Prof. Reda Manthovani menegaskan program Jaga Desa sangat sesuai dengan visi misi Pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita keenam, yakni membangun Desa dari bawah untuk pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan.

Membangun Desa berarti membangun Indonesia. Banyak yang bertanya, mengapa Jaksa dan Intelijen ikut mengurusi permasalahan Desa, katanya karena Kejaksaan merupakan struktur tata negara pada penyelenggaraan tugas eksekutif, yang berperan aktif mendukung pembangunan nasional. “Karena itu, aplikasi Jaga Desa hadir untuk mendukung pengelolaan keuangan Desa dapat dijaga secara tertib aturan dan tertib sasaran, jelasnya.

Sedangkan Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, La Ode Ahmad P Bolombo, menyampaikan selamat sekaligus apresiasi kepada Bupati/Walikota Se-Provinsi Bali yang sudah berkomitmen menjaga Desa. Kalau Desa terjaga, daerah pasti terjaga, Indonesia pasti terjaga. Jaga kondusifitas daerah, jaga kerukunan sosial masyarakat, aktifkan semua instrumen yang ada, lakukan kerjasama dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, serta semua perangkat di Pemerintah Desa dan Kelurahan harus berkolaborasi.(KPB/TRA).


BNPB dan Pemprov Bali Tegaskan Komitmen Recovery

Wagub: Recovery dan Perbaikan Infrastruktur Jadi Fokus Pascabanjir

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Kamis (11/9) pagi, meninjau posko bencana banjir di beberapa titik wilayah Denpasar. Dalam kunjungan ini, selain menyerahkan bantuan kepada warga terdampak, Wagub Giri Prasta menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur (recovery) menjadi fokus utama penanganan pascabencana.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan pemerintah hadir langsung untuk membantu masyarakat yang terdampak. Ia menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara khusus telah memerintahkan BNPB untuk turun langsung memberikan penanganan cepat.

“Dalam kesempatan ini, saya ingin berdialog dengan warga terdampak bencana. Kami (BNPB-red) langsung diperintahkan oleh Bapak Presiden untuk menangani korban bencana. Kemarin sudah dilaksanakan rakor dengan Gubernur Bali, Wali Kota, bupati, dan stakeholder terkait. Setelah itu, kami melakukan peninjauan ke Pasar Badung, di mana basement-nya terendam air. Semoga air segera surut agar bisa dilakukan pendataan, termasuk apakah ada korban,” jelasnya.

Menurut analisis BMKG, bencana banjir di Bali dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat adanya dinamika atmosfer Gelombang Rossby dan Kelvin. “Seharusnya pada bulan September di Bali tidak terjadi hujan berlebihan. Namun karena adanya siklus Rossby dan Kelvin, volume hujan yang biasanya turun selama tiga bulan, kali ini turun hanya dalam sehari. Inilah yang memicu bencana banjir,” ungkap Suharyanto.

Atas kejadian ini, Gubernur Bali menetapkan status tanggap darurat selama satu minggu. BNPB memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi. Bantuan logistik yang telah disalurkan antara lain sembako, perlengkapan tidur, serta kebutuhan ibu dan anak.

“Kebutuhan selama tanggap darurat, pemerintah akan hadir. Rumah rusak berat akan diganti pemerintah, rusak sedang dibantu Rp30 juta, dan rusak ringan Rp15 juta. Infrastruktur yang rusak juga akan diperbaiki. Saat ini tengah dilakukan pendataan agar perbaikan segera bisa dilaksanakan,” tegas Suharyanto.

Di sisi lain, Wagub Giri Prasta menyampaikan rasa prihatinnya atas musibah ini. Ia menyebutkan, korban meninggal dunia tercatat sebanyak 14 orang, sementara dua korban lainnya masih dalam proses pencarian.

“Selain korban jiwa, bencana banjir ini juga menimbulkan kerugian material dan merusak infrastruktur. Karena itu, ke depan kami akan fokus pada perbaikan infrastruktur dan recovery. Penanganan kerugian fisik dan material akan menjadi prioritas pembangunan, termasuk perhatian khusus pada kesehatan warga terdampak,” ujar Wagub Giri Prasta.

Perbekel Kesiman Kertalangu, Made Suwena, melaporkan bahwa warganya yang sempat mengungsi kini tersisa 26 orang dari sebelumnya 52 jiwa di Posko Banjar Tohpati. Mereka terdiri dari lima lansia, empat anak-anak, satu balita, dan satu bayi berusia empat bulan.
Total korban banjir di wilayah Tohpati (Banjar Tohpati dan Banjar Kesambi) tercatat 124 jiwa.

“Sebagian besar warga yang mengungsi mengalami kerusakan ringan hingga sedang pada rumah mereka. Mereka membutuhkan waktu untuk membersihkan dan menata kembali tempat tinggalnya, sehingga sementara waktu masih bertahan di posko,” jelasnya. Hadir pula dalam kesempatan ini Anggota DPR RI Wayan Kariasa Adnyana serta Kepala BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya. (Adi/Tra)

 


Penguatan Sistem Pengendalian Rabies dan Flu Burung

NEWSINTERMEDIA.COM || DENPASAR – Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra menghadiri kegiatan uji coba Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia. Acara berlangsung di Ruang Serbaguna Balai Besar Veteriner Denpasar, Kamis (11/9).

Dalam sambutannya, Sekda Bali menekankan pentingnya sistem ini sebagai upaya memperkuat penanganan penyakit zoonosis di Bali, seperti flu burung dan rabies. Ia menjelaskan bahwa dinamika penyakit zoonosis cenderung fluktuatif dan tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan, pada periode tertentu kasus dapat meningkat signifikan hingga menimbulkan kematian.

“Di Bali, kasus rabies masih ditemukan di kabupaten/kota. Dengan adanya SIZE, kita dapat memperoleh informasi yang akurat sehingga memudahkan pengambilan keputusan dalam pengendalian penyakit zoonosis. Saya memberikan apresiasi dan berharap sistem ini bisa diaktifkan kembali serta terus dikembangkan,” ungkapnya.

Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas dan Ketahanan Kesehatan Kemenko PMK, Nancy Dian Anggraeni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sekitar 80 persen wilayah Indonesia merupakan daerah endemis penularan zoonosis dan penyakit infeksius baru. Oleh karena itu, pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi untuk mengantisipasi ancaman penyakit yang berpotensi menjadi wabah bahkan pandemi.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk memperkuat implementasi pencegahan penyakit zoonosis. SIZE dibangun sebagai sistem lintas kementerian untuk menangani ancaman zoonosis dan penyakit baru. Harapannya, dalam dua minggu ke depan sistem ini dapat berjalan sesuai konsep dan menjadi sumber informasi yang andal. Bahkan, SIZE telah dipilih Kementerian PANRB sebagai salah satu inovasi layanan publik,” jelasnya.

Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar, Imron Suandy, turut menyampaikan bahwa laporan harian terkait rabies telah ditayangkan di dasbor BPBD. Ia berharap uji coba SIZE dapat berjalan dengan baik serta mampu menghadirkan sistem berbagi data yang lebih sistematis dan terintegrasi. Melalui SIZE, diharapkan Bali dan Indonesia semakin siap menghadapi ancaman zoonosis maupun penyakit infeksius baru, sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. (EKA/TRA).