Survei Terbaru, Koster-Giri Unggul Telak Elektabilitas 70,4%
DENPASAR-NEWSINTERMEDIA.COM || Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Bali, Wayan Koster dan Giri Prasta, kembali memperlihatkan keunggulan signifikan dalam survei terbaru yang dirilis oleh View Data Indonesia. Elektabilitas Koster-Giri tercatat mencapai 70,4%, jauh melampaui pasangan Made Muliawan Arya (De Gadjah) dan Agus Sudnyana yang hanya meraih dukungan sebesar 28,5%.
Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe!Sementara itu, responden yang menyatakan tidak tahu atau memilih rahasia hanya 1,1%, menunjukkan kejelasan arah dukungan di kalangan pemilih. Peneliti dari View Data Indonesia, Iman Suhirman, menegaskan dominasi pasangan Koster-Giri semakin terlihat jelas menjelang pemilihan,
“Hasil survei ini menunjukkan dominasi pasangan Koster-Giri yang semakin stabil. Tingginya kepuasan publik terhadap kinerja kedua pemimpin ini menjadi faktor utama yang mendorong elektabilitas mereka. Dengan lebih dari 60% pemilih yang merupakan strong voters, Koster-Giri memiliki basis dukungan yang solid dan konsisten,” tulisnya dalam rilis yang disebarkan, Jumat (15/11)
Stabilitas Dukungan, Kinerja Jadi Penentu Survei yang berlangsung antara 26 Oktober hingga 2 November 2024 ini menggarisbawahi stabilnya dukungan terhadap pasangan Koster-Giri. Dibandingkan dengan survei sebelumnya pada bulan September yang mencatat elektabilitas mereka di angka 70,7%, hasil terbaru ini menunjukkan sedikit penurunan, namun masih dalam margin of error ±2%.
Di sisi lain, pasangan De Gadjah-Agus mencatat kenaikan kecil dari 26% menjadi 28,5%, namun angka ini belum cukup untuk mengancam dominasi Koster-Giri. “Tingkat kepuasan publik menjadi faktor kunci dalam keunggulan Koster-Giri,” tambah Iman Suhirman.
Data survei menunjukkan, Wayan Koster mendapat tingkat kepuasan sebesar 84,2%, sementara Giri Prasta mencatat kepuasan publik hingga 94,4%. Angka-angka ini mengukuhkan persepsi positif masyarakat terhadap kinerja keduanya dalam memimpin Bali.
Dominasi di Setiap Kabupaten Pasangan Koster-Giri juga unggul di hampir seluruh kabupaten/kota di Bali. Elektabilitas mereka tertinggi di Gianyar dengan 81%, diikuti oleh Tabanan (75%) dan Badung (74,8%). Dukungan ini tidak lepas dari kekuatan basis PDI Perjuangan, di mana 95,5% pemilih partai tersebut menyatakan akan memilih Koster-Giri. Swing Voter Berkurang, Koster-Giri Diuntungkan
Salah satu temuan penting dalam survei ini adalah penurunan jumlah swing voters. Pada survei bulan September, swing voter mencapai 34,5%, namun kini hanya tersisa 15,3%. Hal ini mengindikasikan semakin banyak pemilih yang sudah menentukan pilihannya.
Dari total elektabilitas 70,4% yang diraih Koster-Giri, sekitar 86,7% merupakan strong voters. Sebaliknya, pasangan De Gadjah-Agus hanya memiliki sekitar 23,7% strong voters dari total pemilih, menempatkan mereka dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Metodologi Survei
Survei ini melibatkan 3.600 responden yang tersebar di 57 kecamatan di seluruh Bali, dengan margin of error sebesar ±2% dan tingkat kepercayaan 95%. Metode yang digunakan adalah multi-stage random sampling, dengan responden berusia 17 tahun ke atas yang memiliki hak pilih.
Dengan hasil survei ini, dominasi Koster-Giri semakin terlihat menjelang pencoblosan Pilgub Bali 2024. Kinerja keduanya yang dinilai positif serta dukungan yang stabil dari pemilih menjadi modal kuat untuk memenangkan pertarungan politik ini.
Koster-Giri Korbankan Jadwal Padat untuk Dialog Kebangsaan
Tapi Dikecewakan Ketidakhadiran Mulia-Pas
DENPASAR-NEWSINTERMEDIA.COM || Kegagalan terlaksananya Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Undiknas dan ISI Denpasar menjadi antiklimaks bagi masyarakat yang menantikan diskusi terbuka dari kedua pasangan calon gubernur Bali. Di balik pembatalan ini, publik menyayangkan sikap Mulia-Pas yang tidak hadir, terlebih ketika Koster-Giri sudah siap dan meluangkan waktu di tengah jadwal kampanye yang padat.
Sikap Koster-Giri yang tetap menunjukkan rasa hormat tinggi terhadap undangan mahasiswa dan akademisi patut diapresiasi. Di tengah rangkaian agenda kampanye yang sibuk, mereka tetap berkomitmen untuk hadir dan menyampaikan visi serta program pembangunan Bali.
Sayangnya, absennya Mulia-Pas bukan hanya mengganggu acara, tetapi juga menciptakan kesan bahwa paslon 01 enggan menghadapi forum kritis yang menuntut transparansi dan kesiapan berdialog. Pembatalan ini tak hanya merugikan publik yang ingin mendengar pemaparan langsung, tapi juga menunjukkan siapa sebenarnya yang siap berdialog terbuka dengan masyarakat Bali.
Koster-Giri, yang sudah mempersiapkan materi dengan matang dan antusias untuk menyampaikan pandangan terkait kebangsaan dan pembangunan berkelanjutan, justru harus menghadapi ketidakseriusan rivalnya. Ketika Koster-Giri rela mengorbankan jadwal padat demi menjawab permintaan dialog dari mahasiswa, sikap menghindar Mulia-Pas semakin memperkuat kesan bahwa mereka tidak siap untuk menghadapi pertanyaan publik.
Dalam momen seperti ini, publik bisa menilai siapa yang benar-benar siap memimpin Bali, siapa yang hadir dengan program konkret, dan siapa yang hanya mengandalkan retorika tanpa keberanian berdialog langsung. Dengan batalnya acara ini, publik Bali hanya bisa berharap Mulia-Pas tidak akan terus-menerus menghindar di forum berikutnya. Sebab, pemimpin sejati tidak hanya dituntut untuk memiliki visi, tetapi juga keberanian untuk memaparkannya secara terbuka kepada masyarakat (*).
