Hadiri Anniversary Mangupura Riders
Wagub Ajak Komunitas Moge Taat Aturan dan Aktif Berkegiatan Sosial
NEWS INTERMEDIA.COM || BADUNG | Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menghadiri perayaan Anniversary ke-9 Mangupura Riders yang berlangsung di Atlas Super Club, Badung, Sabtu malam, 20 Desember 2025. Kehadiran Wagub Bali tersebut disambut antusias oleh para riders motor gede (moge) yang tergabung dalam komunitas Mangupura Riders.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Dalam kesempatan itu, Giri Prasta menyampaikan ucapan selamat ulang tahun sekaligus apresiasi atas kekompakan Mangupura Riders yang telah memasuki usia ke-9. Ia mengingatkan bahwa kebersamaan yang telah terjalin dengan baik sejak tahun-tahun sebelumnya harus terus dijaga. “Di tahun yang ke-8 lalu kita sudah bertemu dan semuanya berjalan dengan baik. Sekarang kita ketemu kembali di tahun yang ke-9, saya yakin Mangupura Riders tetap solid bersama seluruh komunitas,” ujar Giri Prasta dalam sambutannya.
Giri Prasta berharap komunitas sepeda motor ini tidak hanya menjadi wadah penyaluran hobi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk saling bertukar pikiran dan membangun jejaring yang bermanfaat, termasuk dalam menghidupi perekonomian. Ia juga mendorong agar kegiatan sosial terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Teruslah berkomunikasi, dan jangan lupa kegiatan sosial. Kami dari Pemerintah Provinsi Bali, kalau memang ada kegiatan sosial bertalian dengan kesehatan gratis, donor darah, dan kegiatan lainnya kami pasti bantu sepenuhnya,” pesan Wakil Gubernur Bali seraya menyampaikan Dirgahayu Mangupura Riders yang ke-9, tetap kuat, utuh, dan jaya selalu.
Pada perayaan tersebut, Wagub Giri Prasta juga mendapat kehormatan melakukan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan langsung kepada Ketua Umum Mangupura Riders, I Ketut Budiana, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Masih dalam sambutannya, mantan Bupati Badung dua periode ini berpesan agar seluruh pengendara motor gede senantiasa menaati peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama. “Kawan-kawan semua, saya mengajak di dalam berkendara harus terus mentaati peraturan lalu lintas, jaga selalu safety dan lengkapi semua syarat-syarat dalam berkendaraan. Pulang pun nanti tetap menjaga ketertiban lalu lintas,” ajaknya.

Sebagai bentuk perhatian dan dukungan, Giri Prasta juga menyampaikan bahwa secara pribadi ia memberikan bantuan sebesar Rp50 juta. Atas dukungan tersebut, Ketua Umum Mangupura Riders, I Ketut Budiana, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Wakil Gubernur Bali. Ia menekankan agar seluruh pengurus dan anggota Mangupura Riders tetap menyama braya, sehobi, dan seperjuangan dalam menjaga soliditas komunitas. ()
Upacara Parisudha Jagat Doa Bersama Hentikan Tragedi Bunuh Diri
NEWS INTERMEDIA.COM || BADUNG | Rentetan peristiwa bunuh diri yang terjadi berulang di kawasan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, telah menjadi kegelisahan bersama. Tragedi yang terjadi di sekitar Jembatan Tukad Bangkung—jembatan tertinggi di Bali, bahkan Asia Tenggara—tak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menyisakan pertanyaan: apa yang sesungguhnya terjadi dengan ruang ini, dan langkah apa yang perlu diambil agar tidak lagi menjadi tempat hilangnya nyawa manusia?

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta bersama Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Duta Pengolahan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS), Ibu Putri Suastini Koster, serta Ketua BKOW Provinsi Bali Ny. Seniasih Giri Prasta, mengikuti dan melaksanakan persembahyangan bersama dalam Upacara Yadnya Parisudha Jagat di Jembatan Tukad Bangkung, Kamis (18/12).
Upacara ini dimaknai sebagai ikhtiar spiritual untuk memulihkan keseimbangan dan harmoni, sekaligus menetralkan serta menyucikan kawasan Tukad Bangkung yang selama ini diyakini memiliki beban niskala akibat ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam dan ruang sakral. Berdasarkan kajian sosiologis, spiritual, dan kepercayaan lokal, kawasan jembatan tersebut dipercaya sebagai wilayah kerajaan wong samar. Pada masa pembangunan jembatan, diyakini belum sepenuhnya dilakukan permohonan izin secara niskala, sehingga menyisakan ketidakseimbangan energi yang dipercaya turut memengaruhi kondisi psikologis orang-orang tertentu.

Fenomena bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung dinilai tidak cukup dipahami hanya dari aspek fisik atau keamanan. Kesadaran spiritual serta cara manusia beragama di Bali turut dipandang memiliki peran penting. Selama ini, praktik beragama kerap lebih menekankan hubungan vertikal dengan Tuhan, namun kurang memberi ruang pada hubungan horizontal dengan alam sebagai ibu kehidupan.
Secara etimologis, kata Bangkung dan Tukad sama-sama memiliki makna feminin—ibu dan bumi—yang kerap terlupakan untuk dipijak dengan kesadaran. Melalui upacara ini, masyarakat diajak kembali ber-Tuhan di bumi, menjaga keseimbangan antara hubungan vertikal dan horizontal, agar kawasan ini kembali suci dan terbebas dari bayang-bayang tragedi.
Rangkaian Upacara Parisudha Jagat berlangsung khidmat. Setelah prosesi ritual dan doa bersama, dilakukan pelepasan simbol-simbol kehidupan berupa dua ekor kebo putih lanang-wadon yang dilepas secara simbolis dan selanjutnya dihaturkan menjadi kebo duwe di Desa Plaga. Prosesi dilanjutkan dengan pelepasan burung dan lampion, masing-masing sebanyak 33 buah, oleh para tamu undangan di pintu masuk Jembatan Tukad Bangkung. Angka 33 dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan penyucian, sekaligus doa agar kehidupan kembali menemukan jalannya.
Upacara dipuput oleh Jro Mangku Gede Made Pawitra dari Desa Bulian, didampingi para mangku dan prajuru adat dari Desa Bulian, Pelaga, Sidan, Tambakan, Selulung, serta Kubutambahan. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Bangli Wayan Diar, Anggota DPRD Provinsi Bali Made Sumiati, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Bali.
Sebagai bentuk dukungan, Wakil Gubernur Bali menyerahkan punia sebesar Rp25 juta, sementara Ibu Putri Suastini Koster menyumbangkan tiga ekor kerbau guna mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.
Secara filosofis, Upacara Yadnya Parisudha Jagat merupakan bagian dari konsep Sad Kerthi, enam upaya menjaga kesucian dan keharmonisan alam semesta. Pembersihan dilakukan terhadap bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (manusia) untuk mewujudkan keseimbangan sekala dan niskala, sekaligus memohon kerahayuan jagat—kehidupan yang tegak, suci, dan nirmala.
Pelaksanaan upacara ini juga merupakan hasil gotong royong berbagai elemen masyarakat, mulai dari Yayasan BOA, Tim PSBS PADAS, Paiketan Spiritual, Yayasan Bali Mula, Paiketan Kerama Bali, hingga tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan jiwa dan kelestarian alam.
Lebih jauh, Parisudha Jagat di Jembatan Tukad Bangkung menjadi pengingat bahwa persoalan bunuh diri tidak hanya memerlukan pendekatan medis, sosial, atau keamanan, tetapi juga pendekatan spiritual dan kultural yang menyentuh akar kesadaran manusia Bali. Jembatan yang secara makna menghubungkan Badung, Bangli, hingga Buleleng ini diharapkan kembali menjadi simbol peralihan dari kegelapan menuju kebajikan, dari keputusasaan menuju harapan.
Dengan dilaksanakannya upacara ini, harapan pun disematkan agar Jembatan Tukad Bangkung kembali menjadi jembatan kehidupan, bukan jembatan kematian—sebuah ruang suci yang mengingatkan manusia untuk berhenti sejenak, menunduk pada bumi, dan memilih untuk tetap hidup. (Ieonk/TRa).







